MAKASSAR.TV – Narkoba telah menjadi musuh utama negara. Pasokan narkoba ke pelbagai wilayah di indonesia terus meningkat.

Secara nasional, jumlah penyalahguna barang haram ini telah mencapai 33,3 juta jiwa. Secara prevelansi, angka ini sudah masuk dalam kategori sangat mengkhawatirkan.

Nah, bagaimana dengan sulawesi selatan ?. Berdasarkan data Nasional, Sulsel masuk dalam 10 besar daerah zona merah narkoba.

Pada 2013, Sulsel masih berada di urutan ke 13 tingkat penyalahguna narkoba terbanyak. Tiga tahun berselang, peringkat Sulsel naik dua digit dan menduduki uruatn ke 11, secara Nasional.

Ironinya, memasuki tahun 2017, peringkat sulsel justru lebih meningkat. Berdasarkan hasil penelitian Puslitkes Universitas Indonesia dan BBN, tahun 2017 Sulsel menduduki urutan ke tujuh skala Nasional.

Nah, bagaimana dengan pemetaan daerah peredaran ? Untuk point ini, Sidrap, Pare-pare dan Pinrang masih menjadi yang terdepan.

Namun, pasar peredaran narkoba kini mulai merambah daerah lain. Peredaran dan penyaalahgunaan narkoba di sejumlah daerah bahkan terus meningkat.

Kabupaten Takalar dan gowa adalah dua daerah yang yang mulai masuk zona rawan narkoba. Khusus di Takalar, angka penyalahguna dan peredaran narkoba telah mencapai 1.760 ribu jiwa.

Nah, dengan kondisi seperti ini, bagaimana tanggapan pemerintah setempat ?.

Berikut, petikan wawancara kami dengan ketua badan narkotika kabupaten takalar, Achmad Daeng Se’re, yang baru saja dikukuhkan.