MAKASSAR.TV – Perhelatan Pilkada Makassar telah memasuki tahap akhir. Namun, pertarungan antara pasangan Calon tunggal, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi melawan Kolom kosong, menyisakan banyak polemik.

Diawali dari gugurnya pencalonan sang petahana, Mohamad Ramdhan Pomanto dari kontestasi Pilkada. Dari sini, polemik terus berlanjut hingga pada urusan hukum dan kekisruhan usai pemungutan suara.

Asa Danny sempat sejatinya sempat terbuka kala KPU menggugat keputusan PT-TUN. Namun, harus kandas usai Mahkamah Konstitusi menolak kasasi yang diajukan KPU Kota Makassar.

Alhasil, foto Danny Pomanto dan pasangannya, Indira Mulyasari pun mutlak dicoret dari kertas suara. Pilkada Makassar pun resmi hanya dilakoni oleh paslon tunggal melawan kolom kosong.

Penjegalan langkah Danny untuk kembali menahkodahi Makassar tidak hanya sampai disitu. Danny bahkan kemudian terseret ke lubang hukum. Sejumlah dugaan kasus korupsi di alamatkan ke sang petahana. Kasus inipun sukses memakan tumbal. Beberapa anak buah Danny menjadi tersangka oleh Polda Polda Sulsel.

Kisruh berlanjut. Tepatnya di momen hari pencoblosan, 27 Juni lalu. Kejutan perolehan suara kolom kosong menjadi penyebab. Sejumlah lembaga survey mengklaim keunggulan kolom kosong di pilkada makassar, atas pasangan tunggal, Appi-Cicu.

Namun, lagi-lagi. Danny kembali menjadi sasaran. Wali Kota ini dituding menjadi komando dan dalang dari gerakan kolom kosong, hingga berhasil mengungguli perolehan paslon tunggal di Pilkada Makassar.

Nah, bagaimana Danny Pomanto menyikapi dinamika politik yang terjadi? Simak blak-blakan Danny Pomanto, bersama kami di News Maker.